
Tepat penghujung Juni lalu, desainer kain-kain tradisional Thomas Sigar mempersembahkan “The Enchanting Culture of Minahasa”. Kain tenun sutra bermotif patola dan motif patola cetak tangan di atas sifon dan sutra. Dalam busana masa kini bernapas etnik modern.
Kain pantola masuk dalam jenis kain khas sungkit (songket) Pinatikan. Penenunan songket pinatikan memiliki benang timbul pada permukaan kain yang lebih mirip tenun jalin tapestry (tapestry weaving). Salah satu ke khasan kain tenun songket Pinatikan ada pada corak ular pada bagian tumpal atau tepi kain.
Motif pantola menjadi highlight peragaan busana malam itu. Ragam hias hadir dalam komposisi berulang dan teratur mirip sisik ular atau ditata meliuk mengikuti gerak binatang mealata, baik diatas kain tenun sutra maupun sebagai motif cetak tangan di atas sutra dan sifon.
Untuk menggambarkan pengaruh kain India pada kain tenun Minahasa olahan baru ini, Thomas Sigar menggarap kain-kainnya menjadi busana bergaya India, yang dicampur dengan pengaruh animisme. Didominasi warna coklat kayu, hijau pupus dedaunan dan abu-abu batu-batuan.
Peragaan menampilkan 25 busana wanita dan pria dalam gaya sehari-hari sampai malam. Dipresentasikan dalam alur peragaan bersuasana mulai horizon matahari terbit sampai tenggelamnya sang mentari.
Koleksi dibuka dengan 13 rancangan busana wanita dan pria di atas bahan sutra dan sifon bermotif patola cetak tangan. Gaya rancangan tampil melambai dengan sentuhan siluet dan disana-sini diperindah teknik draperi. Sentuhan alam dan animisme diungkap lewat unsur tasel dan tali panjang yang diibaratkan akar pohon sebagai detil.
Babak penutup menghadirkan 12 rancangan busana wanita dan pria dengan menggunakan kaiwu (artinya kain tenun dalam bahasa Minahasa) bermotif patola, pinawetengan, pinatikan dan tembega.
Rancangan busana dari kain-kain tenun sutra itu mendapat sentuhan batu-batuan pada beberapa bagian memperindah koleksi.
Aksesori berukuran besar yang dikembangkan dari motif kuno sampai lambang-lambang tradisional hadir dalam anting panjang, tusuk konde besar dan kalung bernuansa animisme.
Koleksi ini diakhiri rancangan puncak yang berhias bulu-bulu burung asli, yang diikuti prosesi tari tradisional yang memperlihatkan kekayaan budaya Minahasa dari berbagai aspek.
Di
| ←Previous Bringing a True “Taste of Asia” | Kagum Hotels Gelar Corporate & Media Gathering Di Jakarta Next→ |
|---|
| < Previous | Next > |
|---|