
Kecintaan pada kain tradisional membuat Ade sering mengenakan kain dalam berbagai acara, baik formal maupun semi formal. Rasa cinta pula yang menggerakkan Ade dan delapan ibu pecinta kain nusantara lainnya, mendirikan perkumpulan Rumah Pesona Kain (RPK).
Ketika kami temui siang itu di booth Rumah Pesona Kain pada pameran Gelar Batik Nusantara, di Jakarta Convention Centre, pemilik nama lengkap Emiria Krisnaraga Syarfuan ini terlihat cantik dalam balutan kebaya merah. Penuh semangat Ade menceritakan kegiatannya dalam membina perajin kain-kain nusantara.
Sejak awal pembentukan RPK, Ade sebagai sekretaris dan koordinator daerah binaan, bersama Ike Nirwan Bakrie sebagai ketua RPK, sibuk menentukan daerah dan jenis kain yang akan diangkat. Mencari ahli tekstil dan ahli motif, serta menunjuk rekan ibu-ibu lain dan perancang busana yang tepat untuk membina perajin di daerah-daerah tersebut. Ade sendiri bertindak sebagai pembina Tapis Lampung, Songket Jambi, Batik Banten dan Songket Singaraja.
Kiprah RPK bukan sekedar membina pengembangan ragam hias kain-kain tradisional, melainkan juga membantu memasarkan produk para perajin binaan demi mengangkat kesejahteraan mereka. Tugas yang tidak bisa dibilang mudah, namun suatu kebahagiaan tersendiri bagi ibu lima anak ini melihat para perajin berhasil memproduksi kain Nusantara dengan kualitas semakin baik dan semakin banyak pula yang memakai. Terutama setelah RPK menggelar acara “Seribu Warna Kain Nusantara” pada 12 Agustus 2009 di Hotel Mulia, berkolaborasi dengan 13 perancang busana dan menampilkan kain dari 12 daerah, dimana Ade berperan sebagai ketua panitia
Mengaku tidak menyediakan budget khusus untuk membeli kain, Ade bercerita bahwa orang pertama yang memperkenalkan kain padanya adalah eyang putri, Soejatin Katowijono, seorang guru & tokoh pergerakan wanita. “Karena eyang berasal dari Yogya, maka koleksi terbanyak saya adalah batik, setelah menikah ibu mertua saya yang asal Lampung mengenalkan saya pada Tapis Lampung, yang lalu menjadi koleksi terbanyak kedua saya.” Selain itu pengurus Himpunan Wastra Prema, wakil ketua Yayasan Penyantun Asma Anak Indonesia dan Sekretaris Yayasan Pendidikan Bakrie ini juga mengoleksi beragam kain Nusantara dari daerah Aceh, Jambi, Bali, NTT, Kalimantan, Sulawesi sampai Papua.
Ketika ditanya rencana RPK selanjutnya untuk memajukan kain nusantara, lulusan sastra Jepang Universitas Indonesia ini menjawab akan melanjutkan pembinaan yang sudah berjalan di 12 propinsi dengan memperluas kegiatan tersebut ke provinsi-provinsi lain. Diakuinya, latar belakang pendidikan mempengaruhi cara pandang Ade terhadap kehidupan dan aktifitasnya, “Dengan mempelajari seni budaya, saya jadi menyenangi segala bentuk seni, dan memahami budaya para perajin.” Selalu ada saatnya perajin ngambek dan mogok bekerja, namun tetap dihadapinya dengan tenang. “Usaha RPK dalam memajukan kain Nusantara adalah perjalanan panjang tiada akhir yang harus digeluti, tak akan ada hasil yang baik tanpa teamwork yang baik” tegasnya.
Mahligai
| ←Previous Batik Dalam Seni Keramik | Mahadaya Sebuah Mitologi Next→ |
|---|
| < Previous | Next > |
|---|